Pariwisata Bali untuk Siapa? (Part I)

Teman         : “Wah enak jadi orang Bali. Pasti sering maen bogey jumping, waterboom, banana boat, paracyling (bener ga ejaannya kayak gini?) “.

Hah???? Bener juga. Tapi kok aku terkejut dengan pertanyaan yang mendekati pernyataan tersebut. Waduh, tempat yang menyediakan maenan tersebut di Bali aja ga tau gimana mau maennya. Lagian permainan tersebut bayar pake dolar cing. Klo sedolar sih masih minat. Tp rata-rata di atas 20 dolar. Bahkan ada yang 75 dolar. Ini mah biaya hidup sebulan di tanah rantau. Enak aja dihabiskan buat membanjiri otak dengan serotonin selama beberapa menit.

Dengan alat bayar berupa mata uang asing tersebut sangat jelas penyedia layanan tersebut memang membidik pangsa pasar turis asing atau turis domestik tingkat atas. Sayang sekali dengan glamornya pariwisata di bali belum mampu mengangkat sebagian besar penduduk bali menjadi penghuni strata atas di negeri ini. Hanya segelintir yang beruntung bisa mengecap nikmatnya kue pariwisata. Beberapa berusaha mendapatkan remah-remah dengan menjadi buruh hotel atau segala sesuatu yang berhubungan dengan pariwisata tapi tetep aja sebagai buruh. Dan sebagian besar bisa ditebak hanya sebagai penonton yang cukup bangga dengan pujian bagi daerah kelahirannya ini. Jadi sebagai masyarakat yang kebetulan lahir di bali dan kebetulan juga ga kebagian remah kue sekalipun sedikit, cukup bangga dengan adanya acara TV yang memuat adanya permainan elit tersebut di daerah kelahirannya yang tercinta. Sehingga dapat dipastikan penduduk Bali yang bisa mengecap permainan itu bisa dihitung dengan jari.

                                        ………………..

Keponakan: ”Bli maen ke taman yuk”

Aku :”Taman mana?”

Keponakan: ”Di sana, di Iding (lereng lembah) yang sering bli lewati. Kan bli sering maen ke sana. (terbayang lereng lembah yang sangat sunyi tapi ber-aura angker karena banyaknya pohon2 meraksasa). Sekarang udah dijadikan taman sama turis”.

Setelah melakukan perjalanan beberapa menit sampailah di tempat yang di tuju. Ternyata idingnya telah dikelilingi pagar. Dan pohon angker tersebut telah menghilang digantikan oleh hamparan rumput menghijau dan beberapa bangunan bungalow. Keponakanku sering berkunjung ke sana karena tamannya yang bagus. Tapi sayang sekali dia hanya menikmati dari balik pagar. Gimana bisa masuk klo semalam saja tarifnya ratusan dolar. Dengernya aja penduduk sekitar bisa merinding.

Bungalow seperti itu bukan hanya ada satu di daerah utara ubud. Ada banyak turis yang membangun hotel, restoran, bungalow dan lain sebagainya. Hebatnya lagi mereka menyulap iding yang tadinya angker menjadi nikmat dihuni. Pantas saja Denpasar mulai banjir. Karena daerah resapan air ini telah berubah wujud menjadi daerah resapan turis. Sedangkan para buta kala yang tadinya menghuni iding tersebut dipastikan akan kehilangan tempat huniannya sehingga akan bertransmigrasi ke rumah penduduk sekitar (jelas karena rumah penduduk lebih semrawut daripada iding yang telah berubah wujud tersebut). Akibat pengaruh butha kala ini bisa dipastikan akan mempengaruhi prilaku masyarakat sekitar. Mengetahui harga tanah ngelunjak dan akibat pengaruh bhuta kala, maka banyak masyarakat yang berkeinginan menjual tanahnya. Padahal tanahnya masih digarap sama saudaranya yang lain. Di sini masalah humanisme terabaikan. Tanah yang digarap oleh saudaranya banyak yang diambil paksa. Beberapa bahkan sampai ke pengadilan. Bahkan ada yang sampai menggugat orang tuanya sendiri agar bisa menjual tanah warisannya tersebut. Buta kala memang hebat. Padahal para penjual tanah tersebut tidak langsung menjual tanahnya kepada si turis. Mereka harus menjual pada si broker dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga yang di beli oleh si turis dari si broker. Makanya tidak mengherankan di daerah ini muncul segelintir orang kaya mendadak yang berprofesi sebagai penipu bagi saudaranya sendiri.

Duit hasil menjual tanah tersebut biasanya digunakan berfoya foya. Beli mobil baru, rumah baru, dan pokoknya serba baru sampai merubah gaya hidup baru yang mentereng. Paling banter mereka bisa berfoya-foya selama 5 tahun. Setelah itu satu persatu barang terbeli mulai di jual. Yah balik jadi miskin lg deh. Yang lebih parah sih bagi yang kecanduan judi. Beberapa hari aja udah jatuh miskin lagi. Karena tidak punya lahan garapan lagi, ya terpaksa mereka harus jadi buruh untuk mempertahankan hidupnya. Muncullah kaum proletar. Sebagian besar munculnya kaum proletar di bali seperti kejadian di atas (Culik dan Seraya di Karangasem. Seraya belum sepenuhnya, karena baru sebagian kecil yang sudah beralih tangan. Akan tetapi beberapa lokasi telah dibidik oleh investor sehingga harga tanah mendadak ngelunjak. Padahal Seraya selama ini sering di indetikkan dengan daerah yang kekurangan pangan). Selain karena kejadian di atas juga karena adanya perampasan lahan dengan kekerasan (kasus BNR), kekerasan terselubung (Dreamland seperti yang dilaporkan oleh kompas) dan pastilah banyak terjadi di daerah lainnya. Kasus yang sedikit lebih cerdas adalah penjualan tanah di Jimbaran dan hasil penjualannya dibelikan tanah perkebunan di Jembrana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: