Pariwisata Bali untuk Siapa? (Part II)

Ibu : “Ikut ngasi pelayanan kesehatan ke Belong yuk!”

Aku : ”Belong itu di mana?”

Ibu : “Di bongkol (kaki) Gunung Agung.”

Wah ini pasti salah satu tempat tertinggal lagi. Bukan barang langka di Karangasem jika mendapatkan suatu daerah yang katanya tertinggal (hati-hati!!! Sering sekali terjadi manipulasi disini. Banyak pengemis di Denpasar yang bilang berasal dari suatu daerah di Karangasem yaitu Munti Gunung. Memang dulu banyak pengemis dari daerah tersebut. Akan tetapi sekarang profesi ini sudah ditinggalkan seiring dengan pertambahan penghasilan mereka (mungkinkah karena pariwisata?? Setahu saya karena pertambangan pasir). Sekarang ini rumah mereka sudah mentereng. Mana mungkin ada yang mau terhinakan menjadi pengemis lagi).

Perjalanan dari Amlapura-Kubu memakan waktu 1 jam (45 km). Dari Kubu harus bergerak ke arah barat daya memakan waktu yang sama (25 km).

Pertanyaan : ”Kenapa dua jarak yang beda jauh waktu tempuhnya jadi sama?”

Jawab : ”Karena kecepatan tempuhnya berbeda”.

Pertanyaan : ”Kenapa bisa beda kecepatannya?”

Jawab : ”Pastinya karena prasarananya beda”.

Pertanyaan : ”Maksudnya?”

Jawaban : ”Ya…. Mana lebih cepat menempuh jalan hotmix daripada jalan pasir yang terjal??”

Pertanyaan : ”Hah????… Di jaman glamornya pariwisata masih ada jalan pasir di Bali??”

Jawaban : ”Jangan pingsan klo aku bilang belum ada PLN dan PDAM. Ada listrik jikalau ada hajatan saja. Itupun dari genset milik pribadi yang akan rusak setiap tahun. Air diperoleh dengan menampung air hujan dalam bak super gede. Makanya jangan heran kalau bertandang ke sana akan mendapati atap-atap yang berisi hiasan saluran ke arah bak besar tersebut. Tentunya agar lebih banyak air yang bisa tertampung dan bisa memenuhi kebutuhan selama musim kemarau di depan.

Pertanyaan : ”Terus, kalau ternyata air hujannya cuman sedikit yang tertampung?”.

Jawab : ”Ya harus beli air dari mobil pemerintah”.

Pertanyaan : ”Kok beli?? Bukannya katanya di gratiskan??”.

Jawab : ”Tengnong krik krik tengnong krik krik tengnong (bisa di artikan sensor deh hehehehe. Ngarti sendiri lah…)”.

Pada waktu Gunung Agung meletus tahun 1963, daerah ini terkena banjir pasir. Sebagian meninggal, bahkan ada beberapa desa yang seluruh penduduknya meninggal. Karena suatu hal, mereka menolak untuk transmigrasi. Jadi mereka kembali ke tempat asal dan mulai menanami tanah pasir. Emang apa sih yang bisa hidup di atas pasir? Akhirnya lewat kerja keras, mereka mulai menanam jambu mente atau jambu monyet atau istilah kerennya cashew. Mereka menanam di sebarang tempat. Termasuk di desa yang seluruh penduduknya meninggal. Kerja keras tersebut ternyata tidak sia-sia. Sekarang terdapat hutan mente di sana. Jambu mente di barter dengan beraslah menjadi tumpuan mereka. Dengan jambu mente mereka cukup bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pertanyaan : ”Jambu mente kan mahal. Jadi mereka sekarang kaya-kaya dong?”.

Jawab : ”Pala loe peyang. Memang jambu mente adalah makanan eksklusif. Kemarin lihat di Giant 33 rb/500 gram. Jadi sekilonya 66 rb. Ini masih mentah lho. Klo udah di goreng, apalagi di campur dengan coklat seperti silverqueen harganya bisa ngelunjak lebih dahsyat lagi. Di Belong, harga sekilonya cuman 7rb. Itupun harus di bawa ke Kubu dengan melewati jalan pasir terjal tadi. Bahkan terakhir aku ke sana cuman 3rb cing. Jadi siapa yang untung? Ya cina-cina pertengkulakan dari Buleleng. Petani cuman dapat sekedar hidup aja”.

Dengan keadaan tersebut sangat terpaksa akhirnya para muda mudi harus ngendon ke Denpasar. Yang muda jadi buruh yang mudi biasanya jadi pembantu rumah tangga.

Kok ekonomi Pancasila bisa sesadis ini yah?? Mereka itu seharusnya hidup mewah dengan hutan mente yang mereka miliki. Tapi tetep aja mereka musti ngendon ke Denpasar. Ini jelas sangat bertentangan dengan cita-cita The founding fathers kita. Yah…karena saat ini kita menganut ekonomi Pancasila yang diperkosa. Sebenarnya sih ekonomi kapitalis tapi masih malu-malu gitu deh. Takut ntar kleatan ga memihak rakyat kecil. Padahal emang ga ada keberpihakannya sama sekali.

Pertama kali berkunjung ke sana aku dipenuhi dengan segala keheranan (baca kesedihan aja). Pada tahun 2006 di sana belum ada WC. Setelah beberapa kali kunjungan  baru terdapat satu WC, dimana penggunanya musti mengangkut sendiri air dari bak besar. Untung di sana tidak terdapat mata air. Kenapa untung??? Mengenai hubungan antara WC dan mata air akan di bahas pada tulisan selanjutnya.

Suksma

6 Tanggapan

  1. hakakkaka, ini adalah postingan yang sangat satir. miris. saking mirisnya cuman bisa ketawa.

  2. belum ke daerah ini, tapi tidak terlalu heran. pernah ke daerah sejenis juga. berjarak tak sampe 5km dr daerah pariwisata.

  3. @dewi: Terus pariwisata buat sapa yah???

  4. ** Yah…karena saat ini kita menganut ekonomi Pancasila yang diperkosa. Sebenarnya sih ekonomi kapitalis tapi masih malu-malu gitu deh. **

    Hehehe… Saya suka kalimat di atas! Nice protest bro!😀

  5. @imsuryawan: Tengkyu bli hehehehehe

  6. Baru pertama mampir. Baca2 dan langsung koment.
    Salam kenal
    With warm regards
    Ivan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: