Pengkerdilan Tokoh Kartini

”Menyambut hari Kartini, karyawati ”anu” mengenakan kebaya ke kantor”. Sebagian besar berita mengulas perbedaan yang terjadi pada karyawati beberapa perusahaan tersebut pada 21 April kemarin. Ada karyawati bus transjakarta yang mejeng di halaman pertama Kompas dengan mengenakan pakaian adat Palembang (ribet amat, ga menghalangi pekerjaan nih?? Bukanya pakaian adat daerah untuk acara ritual adat saja?? Kok dipakai bekerja sih??). Yang menyedihkan, perayaan hari Kartini tahun ini tidak ada (baca ”penulis belum menemukan”) yang memuat kisah perjuangannya. Tokoh ini selalu diidentikkan dengan kebaya hitam dan rambutnya yang disanggul. Kartini sendiri pasti akan sedih jika tahu perjuangannya dikerdilkan dan diingat cuman seremonialnya belaka.

Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1879. Bapaknya adalah bupati Jepara, dan Ibunya, Ngasirah adalah anak mandor pabrik tebu. Jadi bisa dipastikan bahwa ibunya adalah seorang selir. Berbeda dari wanita sejamannya, Kartini dan saudara perempuannya disekolahkan pada sekolah rakyat bikinan Belanda. Disanalah ia belajar Bahasa Belanda yang akhirnya digunakan untuk berkorespondensi dengan temannya di Belanda. Menginjak dewasa, ia semakin tersayat melihat ketimpangan yang terjadi pada masyarakatnya.

“Orang Jawa dianiaya. Aku akan menyetopnya. Dan : Tugas manusia adalah menjadi manusia

Itulah penggalan surat Kartini kepada sahabatnya Estelle Zeehandelaar. Kalimat yang tercetak miring adalah penggalan yang disadurnya dari buku Max Havelaar karya Multatuli. Jadi saat itu Kartini telah sadar akan ketimpangan yang diakibatkan kolonialisme Belanda.  

Salah satu usaha Kartini untuk menghentikan ketipangan itu adalah dengan menaikkan derajat kesenian rakyat. Bahkan pada pameran kesenian kesenian yang dihadiri ibu suri Kerajaan Belanda. Ia menulis tentang batik. Ternyata ibu suri terkesan akan tulisannya itu sehingga mengirimkan utusan untuk membantu mengembangkan kerajinan batik Jepara. Usaha Kartini saat itu berhasil mengangkat kerajinan rakyat Jepara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup pengrajin tersebut. Kedekatan Kartini pada rayatnya dapat terungkap melalui surat-suratnya yang menyatakan bahwa ia adalah anak rakyat.

”Panggil aku Kartini saja. Itulah namaku.”

Waw… Kartini lahir pada golongan ningrat. Pada saat itu banyak ningrat yang merupakan kepanjangan tangan Belanda itu gila hormat. Jadi gelar sangatlah penting bagi mereka. Sedangkan Kartini malah berusaha menghilangkan gelar yang ia miliki karena kelahirannya. Disini Kartini sangat jelas menyatakan pertentangannya pada feodalisme. Pertentangannya ini mungkin sangat berat baginya karena harus berseberangan dengan bapaknya sendiri yang masih feodal.

 Memang ada yang menyangsikan perjuangan Kartini ini karena kedekatannya pada pihak Belanda. Selain itu surat-suratnya bisa terungkap karena usaha dari Tuan Abendanon, salah satu petinggi Belanda pada tahun 1911.

Pada saat itu sedang berkembang politik etis. Inggris saat itu memiliki Pandita Ramabai yang dikenal sebagai pejuang wanita dari India. Sangat lumrah jika Belanda juga tidak mau kalah sehingga bernafsu untuk mengorbitkan Kartini. Kumpulan surat-surat itu terangkum dalam buku Door Duisternis tot Licht yang mengambil cuplikan kata-kata Kartini ”Habis gelap terbitlah terang”. Amat disayangkan bahwa pada buku ini, surat-surat Kartini mengalami banyak sensor. Kalimat-kalimat yang berisi penentangan terhadap kolonialisme dan feodalisme sengaja dihapuskan. Lebih menyedihkannya lagi, buku habis gelap terbitlah terang karya Armijn Pane yang berbahasa Melayu adalah terjemahan langsung dari Door Duisternis tot Licht. Inipun cuman menyadur 40% dari keseluruhan buku Door Duisternis tot Licht.

Disinilah yang saya anggap terjadinya pengkerdilan tokoh Kartini. Lebih menyedihkannya lagi, bahwa Kartini telah dikerdilkan oleh kita sendiri yang tanpa sengaja telah mengabaikan perjuangannya.

Kartini pada masanya tidak hanya memperjuangkan kaum wanita, tapi seluruh rakyat. Memang dia berusaha memberikan pelajaran Bahasa Belanda pada kaum wanita saat itu. Itu dikarenakan diskriminasi gender yang terjadi pada masa itu. Apa masa sekarang masih layak untuk dibedakan?? Jadi disini juga terjadi pengkerdilan yang digunakan untuk membenarkan perbedaan gender. Sangat naif sekali jika kita yang selama ini sudah muak dengan sekat-sekat SARA harus diberikan sekat baru yang bernama gender.

Memang Kartini adalah manusia biasa. Pada akhirnya ia harus menyerah pada feodalisme dan terpaksa menerima suaminya yang poligami.

Sebelum meninggal Kartini menulis suratnya yang terakhir pada kalimat terakhir, enam hari sebelum melahirkan:

”Selamat malam, bunda tersayang, sekali lagi terimalah terimakasih kami berdua yang ikhlas. Salam kepada Tuan dari kami berdua, dan terimaah cium mesra dari putrimu sendiri: Kartini.”

 

Reff:

1.      Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara. 2007

2.      Kompas edisi 21 dan 22 April 2008

3.      www.detik.com

 

 

5 Tanggapan

  1. wah salam kenal bung. tulisan ada sangat dalam en sepertinya didapat melalui riset yang cukup lama… salut bung, emang mestinya perayaan hari Kartini tidak cuma dengan menggunakan kebaya dan sanggul karena itu tidak merupakan esensi dari perjuangan beliau… mestinya lebih banyak diberitakan mengeni pencapaian dari wanita2 indonesia pada jaman sekarang ini… penghargaan terhadap wanita merupakan salah satu warisan dari Kartini..

  2. endingnya kereeeeeeeen…

    salam takzim dan takjub dr bali.😀

  3. @ghozan: hehehehe cuman iseng baca buku doang kok. Yup setuju. Harus dipahami ide perjuangannya, bukan simbolisasinya.
    @anton: Tengkyu buat kunjungannya bli..

  4. tugas manusia adalah untuk menjadi manusia …*dalemmmm bangedddssssss*🙂

    Betul mbok. Tapi itu cuman saduran dari buku Max Havelaar karangan Multatuli. Bukannya kata-kata Kartini sendiri.

  5. Bangsa ini memang terlalu sibuk dengan urusanny sendiri, sampai2 lupa sama orang2 yang sudah membuat bangsa ini ga punah!

    Jas merah bli….Jangan lupakan sejarah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: