Presiden dan Perdana Menteri Pertama dari Bali

Pemilihan presiden semakin dekat. Saat ini beberapa calon sudah menyatakan diri akan maju seperti Gus Dur, Sutiyoso, Wiranto, Sri Sultan, Akbar Tanjung dan Megawati. Sedangkan calon-calon yang belum mengumumkan pencalonannya seperti SBY dan Jusuf Kalla. Kebanyaan calon merupakan kelahiran Jawa. Padahal dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “Presiden Republik Indonesia adalah orang Indonesia asli”. Berarti orang Bali juga bisa menjadi presiden. Terus kenapa selama ini tidak ada yang mencalonkan diri sebagai presiden? Untuk sebagai calon saja mereka rasanya sudah tahu diri. Pemilihan presiden di Republik ini pada saat ini tidak berdasarkan integritas calon saja. Walaupun memiliki integritas yng sangat baik dan sangat memihak rakyat, tapi karena suku, agama, ras dan golongan yang tidak sesuai dengan pemilik suara mayoritas maka jangan harap calon tersebut bisa terpilih. Maka sangat logis jika sebagian besar pemilih akan berasal dari Jawa dengan memeluk agama tertentu (maap membawa-bawa masalah agama tertentu). Karena hampir 70% pemilih berasal dari Jawa.

Pertanyaan paling naif: ”Kapan orang Bali bisa jadi presiden?” Untuk waktu dekat ini pasti mustahil. Akan tetapi jika kilas balik ke belakang, kembali ke masa perjuangan kemerdekaan sampai adanya pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda, kita akan menemukan hal yang lain. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Karena ingin melanjutkan kolonialisasinya di Hindia Belanda, maka Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diakui oleh Belanda. Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia lewat gandengan tentara sekutu. Untuk mengurangi kedaulatan wilayah Indonesia, maka dibentuklah beberapa negara bagian seperti Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan, Negara Borneo, dan NIT (Negara Indonesia Timur). NIT terbentuk melalui konferensi Malino dan Denpasar. Wilayah NIT meliputi Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Pada pembentukan NIT, terpilih Sukawati sebagai presiden dan Nadjamoedin Daeng Malewa sebagai Perdana Menteri. Jadi Sukawati adalah presiden pertama dari Bali. Oleh karena Nadjamoedin Daeng Malewa terlibat korupsi, maka ia digantikan oleh S.J. Warouw. Karena dianggap tidak berpengalaman maka kabinet ini pun tidak berumur lama. Selanjutnya S.J. Warouw digantikan oleh Ide Anak Agung Gede Agung. Pada saat inilah duo Bali menjadi Presiden dan Perdana Menteri NIT. Saat ini banyak orang yang menganggap NIT adalah Boneka Belanda sehingga disangsikan eksistensinya. Padahal negara-negara federal ini ikut Konferensi Meja Bundar lewat perwakilannya BFO yang di ketuai oleh Ide Anak Agung Gede Agung Sendiri. Dengan kata lain selain Belanda sendiri, Republik Indonesia mengakui eksistensi dari NIT dan negara federal lainnya. Dimana hasil terpenting dari KMB adalah pengakuan kedaulatan penuh dari Belanda (kecuali Irian Barat). Setelah itu terbentuk RIS, dan semua negara federal dibubarkan. Ide Anak Agung Gde Agung sendiri terpilih sebagai menteri luar negeri pada kabinet RIS.

Ternyata anak Bali sudah pernah menjadi Presiden dan Perdana Menteri lho. Terus kapan lagi orang Bali dan golongan minoritas lainnya yang ada di Indonesia bisa menjadi presiden? Mungkin jawabnya ketika syarat capres tidak berdasarkan atas SARA, tapi atas integritas dan keberpihakannya pada rakyat. Semoga masa itu secepatnya datang. Semoga……

Suksma

10 Tanggapan

  1. wah, kayaknya susah deh, jangankan jadi presiden, jadi gubernur aja modalnya sekian banyak, hehehe

  2. seharusnya sih siapa saja, tidak pandang bulu dari dan asli dari daerah mana, bisa jadi presiden

  3. wah kl ada pres dr bali,saya jg suka tuh.biar ga bikin praturan aneh2 dan wisata makin meningkat..btw salam kenal

  4. hmmm sepertinya susah deh… bukannya kenapa sih… tapi sekarang orang memilih presiden itu melihat ya seperti yang anda bilang di atas… lebih2 agama (maaf bukan maksudnya sara, tapi kenyataan), jadi kemungkinannya orang bali jadi presiden mah seperti pungguk merindukan bulan… link sudah saya pasang…

  5. @wira: Jangan pesimis dulu. Biarkan dulu rakyat belajar. Klo dah pinter, duit bukanlah segalanya hehehehe
    @Elys Welt: Setuju. Yang penting dedikasi dan integritasnya pada rakyat.
    @ika: emang selama ini peraturannya aneh-aneh yah?? Salam kenal juga
    @ghozan:hehehehe biarkan waktu yang menjawabnya..tengkyu karna dah di link :p

  6. wong cilik kagak komen

    ga comment juga comment kok..
    salam kenal

  7. Nanti Ady Gondronk presiden ke2 dari Bali.hehehe. 😆

    salam kenal
    Ady Gondronk
    http://baliage.co.cc

    Udah punya integrasi dan dedikasi gak??
    salam kenal juga deh

  8. melihat sejarah itu kayaknya ga bisa dianggap orang Bali jadi presiden or PM karena negara2 bentukan itu hanya boneka buatan belanda alias ‘tidak real’

    nah itu dia bli. Kita mau melihatnya dari sudut pandang yang mana? Kalau kita melihat dari sudut pandang republik (seperti termuat dalam sejarah kita dulu), mereka itu negara boneka belanda. Tapi dilihat dari sudut pandang terbentuknya negara-negara tersebut, mereka tidak salah. Saat itu kekuatan dari proklamasi adalah di Jawa saja. apalagi Sukarno sebagai proklamator adalah anggota BPUPKI bikinan Jepang. Ada kesan di pihak sekutu bahwa kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Jepang. Nah karena Jepang kalah perang, berarti kemerdekaan Indonesia saat itu tidak sah. Setelah proklamasi kekuatan dari republik semakin melemah karena adanya perjanjian Linggarjati, Renville, dan Kaliurang. Perjanjian ini menyebabkan wilayah republik menjadi tersisi 1.5% dari saat diproklamasikan. Melemahnya kekuatan republik ternyata dibangkitkan oleh negara-negara yang disebut boneka tersebut. Negara tersebut mendirikan BFO, yaitu negara federal di nusantara selain republik. Agresi militer Belanda yang ke dua bermaksud untuk menghabiskan kekuatan republik sehingga tidak bisa mengikuti Konferensi Meja Bundar. Akan tetapi perkiraan Belanda meleset. Ternyata BFO menentang kehendak Belanda dan mengancam tidak menghadiri KMB jika republik tidak ikut. Karena tekanan inilah maka republik bisa mengikuti KMB, dimana saat KMB negara-negara federal memilih bergabung dengan republik. Maka berdirilah RIS, sebuah negara federal yang pada dasarnya memang terdiri dari beberapa negara. Saat itu Ide Anak Agung Gede Agung (Perdana Menteri NIT) diangkat menjadi menlu. Jadi saat itu jasa-jasa pendiri BFO diakui oleh bangsa. Kalau saya melihatnya bahwa negara-negara federal tersebut berjuang dengan cara lain. Cara yang lebih halus dan menikam disaat yang tepat.
    Nah pada tahun 1956 Sukarno merubah negara federal ini menjadi demokrasi terpimpin. Dengan adanya demokrasi terpimpin maka pendiri negara federal sebelumnya merasa terhianati. Maka terjadilah yang disebut pemberontakan PRRI/Persmesta. Banyak sejarah kita yang termanipulasi dan diarahkan menjadi hitam-putih saja. Banyak yang dibilang pemberontak yang ternyata adalah pemuda-pemuda terbaik bangsa. Sangat disayangkan jika sejarah harus dibikin oleh pemenang.

  9. wah, wah, wah. ilmu sejarahnya keluar semua nok.😀

    btw, aku br inget. bukannya soekarno itu orang bali. begitu jg megawatie. mereka kan berdarah bali.

    tp, ngomong2, masa sih kita menilai presidennya hanya krn asal usul alias sara (azhari). takutnya karena mmg ga ada yg mampu. lagian, meskipun orang bali, kalo mmg ga layak mimpin negara, masak mau dipaksa memimpin negara.

    maksudku, pertimbangan utama kan pasti kemampuan toh. setelah itu br lain2. kalo agama jd pertimbangan utama, nyatanya toh tidak pernah ada ulama yg jd presiden.🙂

    *nglantur sing neh, bli? hihihi..*

    Maaf, Sukarno dan Megawati cuman dari Bali karena keturunan. Karena tidak pernah menetap atau lahir di Bali saya anggap bukan orang Bali.
    “[Mungkin jawabnya ketika syarat capres tidak berdasarkan atas SARA, tapi atas integritas dan keberpihakannya pada rakyat.]”
    saya setuju bli. Makanya saya menulis yang di atas di akhir tulisan..
    Gus Dur bukan ulama yah? hehehehehe.. Maksud saya minoritas sangat sulit untuk maju karena adanya masalah SARA tersebut, walaupun ia memiliki dedikasi dan integritas. Tidak bisa dipungkiri jika SARA telah dijadikan patokan saat ini untuk memilih seorang pejabat.
    Sekarang saya balikkan. Kalau ada orang minoritas tapi layak menjadi presiden, apakah ia akan terpilih??? Karena masalah SARA, dipastikan ga akan terpilih bli…
    suksma

  10. Salut karena anda berani mengangkat hal2 yang sensitif kayak gini! Memang, soal harus diakui masalah sara belum (sepenuhnya) hilang dari negara ini.

    thanks…klo maw jadi negara besar, SARA harus disingkirkan… Utamakan persatuan dan kesatuan dong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: