Komnas HAM, Jangan Hanya Mengurusi Para Jendral donk!!!

KTT HAM di Viena tahun 1993 menempatkan lima matra tentang HAM yang harus ditempatkan secara berimbang. Kelima matra tersebut adalah: politik, ekonomi, sosial, budaya dan hak sipil. Tapi perjuangan HAM di Indonesia kok cuman bagaimana memburu para Jendral doang. Para aktifis tersebut sibuk koar-koar mengenai pengungkapan kasus Trisakti, DOM Aceh dan Papua, Tanjung Priok, bahkan sampai Talangsari. Sedangkan jika prajurit ABRI atau polisi yang menjadi korban, mereka tidak hirau. Padahal pada kasus DOM Aceh dan Papua, banyak aparat yang jadi korban. Demikian juga pada kasus Talangsari, dimana korban adalah kedua belah pihak. Tapi mengapa demi HAM mereka cuman membela kaumnya Warsidi doang? Memang aparat yang jadi korban bukan manusia?

Saya setuju dengan penegakan HAM. Tapi jangan sampai kelewatan juga dengan membawa masalah HAM di Indonesia ke sidang tentang HAM di Jenewa. Nama Negara telah tercoreng. Padahal mereka cuman fokus pada masalah kecil doang.

Kenapa mereka tidak memperjuangkan di bidang lain juga yang mensejahterakan masyarakat banyak. Seperti pada bidang ekonomi, harga pangan semakin menggila. Minyak goreng meroket, padahal kita adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Harusnya komnas HAM juga memerangi monopoli dari cukong minyak goreng dari Malaysia yang lebih senang mengekspor kelapa sawit Indonesia demi keuntungan mereka.

Dilain pihak, para petani semakin lemah posisinya karena ketergantungan mereka pada bibit hibrida. Ketergantungan mereka pada bibit juga menyebabkan ketergantungan pada pupuk dan pestisida. Hal ini menyebabkan keuntungan mereka semakin merosot. Selain itu lahan garapan mereka sering sekali diserobot, seperti pada kasus di Yogyakarta. Dimana lahan mereka diambil alih untuk penambangan pasir besi.

Selain itu masih banyak suku atau golongan minoritas di negeri ini yang masih terdiskriminasikan. Seperti suku anak dalam yang belum bias menerima fasilitas pembangunan. Selain itu Ahmadiyah juga masih ketakutan karena dianggap sesat. Mereka tidak memiliki kebebasan untuk memeluk kepercayaan yang mereka yakini.

Tenyata banyak PR buat komnas HAM daripada hanya bermain kucing-kucingan sama para Jendral. Permainan itu tidak akan membawa hasil. Mending ubah saja permainan kalian dengan mulai menyuarakan kepentingan rakyat banyak. Biar HAM benar benar tertegakkan di bumi Indonesia dan bukan hanya sekedar slogan demi kepentingan sponsor kalian.

8 Tanggapan

  1. wah tulisannya bener2 “berisi” nih… moga2 para pemimpin bisa membacanya😀

    Tengkyu…Lebih mudah-mudahan HAM yang sebenarnya bisa ditegakkan di negeri ini

  2. mantaps…..
    mudah2an ada komnas HAM yang ngeblog..
    jadi bisa baca tulisan ini…

    Saya lebih seneng klo mereka bukan cuman baca, tapi juga menerapkan semua matra HAM di negeri ini. Sehingga rakyat bener-bener tahu apa itu HAM sesungguhnya. Bukan parsial seperti yang disajikan Komnas HAM saat ini.

  3. Dmn2 yang menjadi korban adalah rakyat yang tak bersenjata. Masa petani di suruh melawan tentara dengan peluru panas mereka? Gila apa?

    ABRI-Polisi “diciptakan” hanya untuk melawan rakyat sendiri termasuk para mahasiswa yang hanya berbekal buku dan pena saja.

    ABRI bukan untuk membela musuh dari luar tapi membunuhi musuh dari dalam.

    Tidaklah salah KOMNAS HAM memburu para Jendral, karena sampai saat ini para Jendral itu belum besih tangannya dari darah2 masa lalu, termasuk yang di sebut dengan ‘Jendral yang selalu tersenyum” alias Soeharto.

    Viva KOMNAS HAM!

    Kejar trs Jendral2 itu.

    Kalau ada polisi atau tentara yang jadi korban, salah sendiri mau di suruh2.

    Tentara Israel aja ada yang keluar dr dinas militer karena gak mau lagi di suruh bunuhi orang2 Palestina yang hanya bersenjata batu saja!

    Maju trs KOMNAS HAM!

    Kaum WARSIDI adalh kaum yang paling tertindas di Indonesia.

    Kaum WARSIDI yang hrs ngantri sembako.

    MILITER tinggal tunggu terima jatah (dan meres dari jatah org lain).

    Ah, jadi nafsu gini gw kl bahas ttg kekejaman militer Indonesia.

    Tapi harus proporsional juga dong…Usut juga penyerang TNI di Aceh dan Papua….Usut juga pembunuh Kapolsek oleh kaki tangan Warsidi…Klo terdesak ya mungkin saja tentara melakukan pembelaan diri.

    Saya setuju dengan penegakan HAM, tapi bukan HAM seperti yang diusahakan oleh Komnas HAM saat ini. Mereka hanya mengurus sebagian kecil dari matra HAM. Itupun ga proporsional. Selalu melihat dari sudut pandang tentara atau polisi yang salah. Hasilnya ya jadi absurd. Ada banyak jalan lebih cerdas untuk mengungkapkan kejahatan para Jendral tersebut. Jangan mempermalukan negara di khalayak Internasional dong. Bodoh amat sih Komnas HAM. Merendahkan martabat bangsa sendiri aja.

    Kita adalah NKRI, bukan negara agama. Jadi Warsidi adalah pemberontakan yang bertentangan dengan ideologi negara. Jadi Warsidi dan pendukungnya layak untuk di tumpas.

    Jangan kelewat bernafsu bung. Lihatlah masalah secara proporsional. Jangan melihat masalah dengan sangkaan, karena yang Anda sangkakan pasti akan dianggap benar.

  4. hmmm… kapan ya HAM tegak di tanah air tercinta ?
    Mungkin jawabnya kapan-kapan bu hehehehehe

  5. tapi begini, pak eka. di antara sekian masalah yang terjadi di masa lalu dan berhubungan dengan HAM adalah adanya pelanggaran oleh para jenderal itu. jadi, menurutku, masalah ini juga tidak bisa disepelekan begitu saja.

    mengurusi masalah lain, tidaklah berarti kemudian lupa pada pelanggaran2 HAM oleh para jenderal.

    Saya setuju dengan penyelidikan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh para Jendral. Yang saya tidak setujui adalah Komnas HAM hanya fokus pada masalah tersebut saja. Padahal masalah itu hanyalah sebagian kecil dari matra tentang HAM. Selain itu mereka sangat tidak proporsional sekali. Kalau aparat yang jadi korban dianggap wajar saja. Padahal aparat juga manusia yang memiliki HAM juga. Selain itu cara yang digunakan oleh mereka sangatlah frontal dan ga cerdas sama sekali. Jadilah usaha mereka membawa masalah tersebut ke konfrensi Internasional di Jenewa. Ini solusi ga cerdas, karena dapat mempermalukan bangsa sendiri.
    Seharusnya Komnas HAM juga mensosialisasikan masalah HAM yang lain. Dari perjuangannya seolah-olah konfrontasi dengan aparat saja yang merupakan masalah HAM. Ini akan mengkerdilkan masalah HAM itu sendiri.
    Sampai saat ini belum saya temukan pergerakan mereka untuk membela kaum miskin. Terakhir yang saya tahu mereka menangani masalah Ahmadiyah, dimana orang Ahmadiyah sendiri yang dituntut sebagai pelanggar HAM. Aneh… Bukannya sebaliknya kalau Ahmadiyah adalah korban pelanggaran HAM..

  6. saya rasa semuanya mesti diurus sih… mau jendral ato ga, rakyat ato siapa saja, kalo masalahnya HAM ya harus berhadapan dengan hukum…

    Jangan sampe Komnas HAM jadi kayak Komnas Perlindungan Anak yang lebih getol ngurusin anak2 seleb ketimbang anak2 jalanan.

    yup… Kembalikan HAM ke kelima matranya..jangan cuman ditegakkan secara parsial

  7. Bos,
    HAM itu adalah jaminan perlindungan relasi antara warga negara dengan negara yang itu sifatnya universal…aparat yang bentrok dengan warga trus jadi korban itu bukan lah pelanggaran hukum karena yang dapat melakukan pelanggaran HAM adalah;
    1. Negara (state actor: termasuk alat negara –TNI/ Polri)
    2. Non-State Actor yakni TNC/ MNC dan Kelompok2 masyarakat yang memiliki afiliasi politik dengan negara.

    Jenis pelanggaran HAM dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
    1. By Ommission ( dengan tindakan)
    2. By Commission (pembiaran)

    Karena sifatnya yang universal, jadi pelaku pelanggaran HAM itu dapat diadili dimana, apalagi yang termasuk kejahatan melawan kemanusiaan dan kejahatan HAM berat.

    Penuntasan pelanggaran HAM masa lalu ()yang dilakukan oleh negara lewat alatnya TNI/ Polri) merupakan tonggak penegakan HAM di masa depan..karena jika itu tidak dituntaskan akan menyebabkan impunitas dan akan terulang kembali dimasa mendatang…

    Jadi, sudah betul apa yang dilakukan Komnas HAM untuk mengajar pertanggungjawaban para jenderal…

    Damai,

    Agung Wardana
    http:bhumisenthana.blogspot.com/

    saya tidak pernah mengatakan tidak setuju, cuman cara dan ketidakproporsionalannya yang tidak saya setujui.. Pendidikan HAM yang dikoar-koarkan oleh Komnas HAM sudah salah. Itu cuman sebagian kecil dari matra HAM yang disepakati di Jenewa Swiss. Sekarang mana pembelaan Komnas HAM pada penganut Ahmadiyah?? Kalau memang maw tuntas, jangan pilih-pilih. Kenapa Komnas HAM tidak melakukan pembelan terhadap korban Gestapu 1965. Banyak rakyat (yang katanya penganut PKI) yang dibantai. Salah-salah Komnas HAM dibilang PKI. Makanya kasus PKI ga pernah disentuh..
    Tidak pernah saya dengar adanya pembelaan Komnas HAM atas ketidak adilan dibidang ekonomi, sosial, budaya. Yang sering saya dengar, ya kucing-kucingan ama Jendral itu doang..
    salam

  8. Klo ngga salah, saya udah respon lagi deh!
    tapi kok hilang ya???
    Atau dihapus ya?

    sory bli, ga saya approve..
    mending tukar pikirannya lewat japri saja..
    suksma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: