Senjata Biologis dari Virus Flu Burung

Judul: Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung

Pengarang: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

Penerbit: Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Cetakan: I, 2007

Tebal: VIII, 182

Semua virus harus diserahkan ke WHO. Setelah diserahkan, negara yang punya virus tersebut tidak memiliki hak untuk mengetahui kemana virus tersebut disalurkan oleh WHO. Bahkan negara tersebut tidak memilliki hak apapun atas vaksin yang nantinya dihasilkan dari virus mereka. Pada prakteknya WHO mengirimkan strain virus tersebut ke negara adidaya. Perusahaan farmasi negara tersebut dengan cekatan menghasilkan vaksin. Lewat WHO negara yang terjangkit diharuskan untuk membeli vaksin tersebut dengan harga yang tinggi. Ketidakadilan inilah yang coba dilawan oleh menteri kesehatan kita.

Diketahui kemudian strain virus tersebut ternyata mengendap di laboratorium Amerika di New Meksiko, dimana laboratorium ini adalah penghasil senjata biologis dan bom atom yang telah meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945. Ketidakjelasan penyaluran virus oleh WHO sangat merisaukan karena ada indikasi virus tersebut untuk dijadikan senjata biologis. Apalagi virus flu burung dari Indonesia diketahui yang paling berbahaya dibandingkan virus dari negara Vietnam dan Thailand. Tentunya dengan sedikit rekayasa, buka hal yang mustahil untuk menciptakan generasi virus yang lebih lethal lagi.

Mengetahui ketidak adilan ini, melalui perjuangan diplomasi yang sangat ketat, menkes berusaha untuk merombak semua kebusukan yang telah terjadi selama 60 tahun di WHO. Dia menginginkan negara asal virus harus mendapatkan kompensasi yang layak, bukannya dijadikan objek kapitalis untuk mengeruk keuntungan bagi perusahaan yang mengatas namakan WHO. Sudah saatnya negara adidaya untuk berdiri sejajar dengan negara berkembang.

Melalui buku ini saya dapat melihat betapa lemahnya kedudukan Indonesia di mata dunia Internasional. Walaupun niat Indonesia benar, tapi banyak negara yang menyatakan tidak mungkin mendukung karena takut akan negara adidaya Amerika. Bahkan cecunguk Amerika di ASEAN, yaitu negara sekecil upil itu, berani-beraninya berusaha melakukan diplomasi kepada Indonesia agar niat tuan besarnya tercapai. Akan tetapi niat menkes yang sudah bulat tidak membuatnya untuk mundur dari gertkan siapapun. Akhirnya lewat perjuangan yang melelahkan, karena harus bertarung frontal dengan Amerika, akhirnya pertarungan dapat dimenangkan oleh delegasi Indonesia.

Saat ini sedang dirancang aturan yang memberikan hak kepada negara asal virus untuk mengetahui kemana virus tersebut diedarkan oleh WHO dan negara asal virus juga akan mendapatkan kompensasi yang layak. Sudah saatnya semua umat manusia di dunia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Tidak ada lagi usaha eksploitasi penduduk negara miskin oleh negara adidaya. Semoga usaha menkes bisa mewujudkan itu semua.

Bahasa buku ini sedikit informal. Seperti diary saja. Masih ada penggunaan kata-kata tidak baku dan kata-kata gaul seperti “emang gua pikirin”. Sayangnya ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan konteks, seperti cerita tentang menkes yang sedang asik jalan-jalan di Iran. Jalan-jalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan flu burung. Selain itu juga ada nada kesedihan saat ia tidak dianggap sebagai tamu VVIP saat memasuki makam Khomeini. Sangat jelas terlihat sifat pejabat Indonesia yang selalu ingin dispesialkan. Akan tetapi secara keseluruhan buku ini layak untuk dibaca. Selamat membaca.

5 Tanggapan

  1. negara kecil tak berdaya aja masih pingin selalu dispesialkan… heran deh…

    kan makanannya beda ama kita bli.. Mereka makan pasir kita buat menguruk pantai sehingga setiap hari negara mereka kelihatan membesar hehehehehehe

  2. Bisa dibeli dimana bukunya? dan harganya berapa ya?

    rasanya di Gramedia juga ada. Yang soft cover harganya 65 ribu rupiah. Sayangnya kemaren sempat ditarik peredarannya karena mengundang kontroversi negara barat. Masa ada ucapan “goblok” yang ditujukan kepada utusan Amerika. Mudah-mudahan sekarang sudah beredar lagi.

  3. sayangnya usaha perbaikan dunia kesehatan di dalam negeri tidak segigih usahanya untuk masalah virus flu burung ini..

    saat ini askes sudah dipecat karena lamban menanggapi komplain. Mudah-mudahan penggantinya lebih baik. Selain itu seringnya dana yang terlambat dari Depkes ke rumah sakit penerima Aseskin sering mengakibatkan kelabakan bagi rumah sakit penerima aseskin. Panjangnya birokrasi memang musti dirombak..

  4. sedih nggak dianggap tamu VVIP ? gaya khan pejabat 2kita😛

    hahahahahaha kan daulat tuanku. Jadi ga biasa dengan sesuatu yang ga spesial..

  5. Wew…! Baru baca neh… Aku turut menyunting y pak…

    Suwun…

    silahkan disunting..Mudah-mudahan bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: