Bandung Tempo Doeloe di Museum Sri Baduga

Wilayah Bandung merupakan Danau Purba. Hal ini bisa terlihat dari pegunungan yang mengelilingi kota Bandung. Sayang danau ini bocor pada daerah kapur yang berada di sekitar Padalarang. Danau purba yang kering tersebut menarik perhatian Belanda untuk mendirikan kota. Diletakkanlah sebuah patok yang nantinya membelah bandung menjadi dua (Utara dan Selatan). Patok tersebut saat ini menjadi Alun-alun Bandung.

Nah itulah sekelumit sejarah berdirinya Kota Bandung. Untuk lebih jelasnya, kalian dapat mengunjungi Museum Sri Baduga. Di dalam museum terdapat pemaparan mengenai Bandung (baca Jawa Barat) dari jaman purba, jaman kerajaan Hindu, Budha, Islam, penjajahan Belanda dan sejarah Budaya yang berkembang di sana. Museum ini terletak di jalan BKR (jalan tentara pejuang), tepat di depan Taman Tegallega. Jadi jika ingin tahu bandung secara menyeluruh, musti berkunjung nih ke sini.

Berikut laporan aku yang sempat menengok museum ini:

Baca lebih lanjut

Telapak Kaki para Presiden

Iseng berjalan di mengitari trotoar Monas, eh malah ketiban pulung. Tanpa sengaja di trotoar Jalan Merdeka Utara (seberang Istana Negara), terdapat tapak kaki presiden yang pernah memerintah Indonesia.

Tapak kaki Presiden Sukarno Baca lebih lanjut

Istana Negara vs Monas

Teman pernah bertanya: “Tau gak kenapa setiap pemimpin negara kita selalu jauh dengan rakyatnya? Kalau dulu karena dipimpin penjajah sih lumrah, tapi sekarang dipimpin oleh orang kita sendiri prilakunya tetep saja sama.”

Karena dilihat saya telah pasrah diapun nyeroscos, “karena pemimpin sekarang tetep tinggal di Istana yang dibikin oleh penjajah untuk mengawasi daerah jajahannya. Jadi saat berkuasa perilaku mereka hampir sama dengan penjajah.”

Jawaban yang sedikit ngaco, tapi setelah direnungkan ada benarnya juga. Istana negara yang terletak di Jalan Merdeka Utara dibangun pada tahun 1796 dan pembangunannya selasai tahun 1804. Sejak tahun 1821 oleh pemerintah kolonial, bangunan tersebut digunakan sebagai pusat pemerintahan. Begitu juga saat Jepang berkuasa di Indonesia. Selama penjajahan Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan, istana ini telah digunakan oleh lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara.

Baca lebih lanjut

Presiden dan Perdana Menteri Pertama dari Bali

Pemilihan presiden semakin dekat. Saat ini beberapa calon sudah menyatakan diri akan maju seperti Gus Dur, Sutiyoso, Wiranto, Sri Sultan, Akbar Tanjung dan Megawati. Sedangkan calon-calon yang belum mengumumkan pencalonannya seperti SBY dan Jusuf Kalla. Kebanyaan calon merupakan kelahiran Jawa. Padahal dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “Presiden Republik Indonesia adalah orang Indonesia asli”. Berarti orang Bali juga bisa menjadi presiden. Terus kenapa selama ini tidak ada yang mencalonkan diri sebagai presiden? Untuk sebagai calon saja mereka rasanya sudah tahu diri. Pemilihan presiden di Republik ini pada saat ini tidak berdasarkan integritas calon saja. Walaupun memiliki integritas yng sangat baik dan sangat memihak rakyat, tapi karena suku, agama, ras dan golongan yang tidak sesuai dengan pemilik suara mayoritas maka jangan harap calon tersebut bisa terpilih. Maka sangat logis jika sebagian besar pemilih akan berasal dari Jawa dengan memeluk agama tertentu (maap membawa-bawa masalah agama tertentu). Karena hampir 70% pemilih berasal dari Jawa.

Pertanyaan paling naif: ”Kapan orang Bali bisa jadi presiden?” Untuk waktu dekat ini pasti mustahil. Akan tetapi jika kilas balik ke belakang, kembali ke masa perjuangan kemerdekaan sampai adanya pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda, kita akan menemukan hal yang lain. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Karena ingin melanjutkan kolonialisasinya di Hindia Belanda, maka Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diakui oleh Belanda. Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia lewat gandengan tentara sekutu. Untuk mengurangi kedaulatan wilayah Indonesia, maka dibentuklah beberapa negara bagian seperti Negara Sumatera Timur, Negara Sumatera Selatan, Negara Borneo, dan NIT (Negara Indonesia Timur). NIT terbentuk melalui konferensi Malino dan Denpasar. Wilayah NIT meliputi Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Pada pembentukan NIT, terpilih Sukawati sebagai presiden dan Nadjamoedin Daeng Malewa sebagai Perdana Menteri. Jadi Sukawati adalah presiden pertama dari Bali. Oleh karena Nadjamoedin Daeng Malewa terlibat korupsi, maka ia digantikan oleh S.J. Warouw. Karena dianggap tidak berpengalaman maka kabinet ini pun tidak berumur lama. Selanjutnya S.J. Warouw digantikan oleh Ide Anak Agung Gede Agung. Pada saat inilah duo Bali menjadi Presiden dan Perdana Menteri NIT. Saat ini banyak orang yang menganggap NIT adalah Boneka Belanda sehingga disangsikan eksistensinya. Padahal negara-negara federal ini ikut Konferensi Meja Bundar lewat perwakilannya BFO yang di ketuai oleh Ide Anak Agung Gede Agung Sendiri. Dengan kata lain selain Belanda sendiri, Republik Indonesia mengakui eksistensi dari NIT dan negara federal lainnya. Dimana hasil terpenting dari KMB adalah pengakuan kedaulatan penuh dari Belanda (kecuali Irian Barat). Setelah itu terbentuk RIS, dan semua negara federal dibubarkan. Ide Anak Agung Gde Agung sendiri terpilih sebagai menteri luar negeri pada kabinet RIS.

Ternyata anak Bali sudah pernah menjadi Presiden dan Perdana Menteri lho. Terus kapan lagi orang Bali dan golongan minoritas lainnya yang ada di Indonesia bisa menjadi presiden? Mungkin jawabnya ketika syarat capres tidak berdasarkan atas SARA, tapi atas integritas dan keberpihakannya pada rakyat. Semoga masa itu secepatnya datang. Semoga……

Suksma

Pengkerdilan Tokoh Kartini

”Menyambut hari Kartini, karyawati ”anu” mengenakan kebaya ke kantor”. Sebagian besar berita mengulas perbedaan yang terjadi pada karyawati beberapa perusahaan tersebut pada 21 April kemarin. Ada karyawati bus transjakarta yang mejeng di halaman pertama Kompas dengan mengenakan pakaian adat Palembang (ribet amat, ga menghalangi pekerjaan nih?? Bukanya pakaian adat daerah untuk acara ritual adat saja?? Kok dipakai bekerja sih??). Yang menyedihkan, perayaan hari Kartini tahun ini tidak ada (baca ”penulis belum menemukan”) yang memuat kisah perjuangannya. Tokoh ini selalu diidentikkan dengan kebaya hitam dan rambutnya yang disanggul. Kartini sendiri pasti akan sedih jika tahu perjuangannya dikerdilkan dan diingat cuman seremonialnya belaka.

Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1879. Bapaknya adalah bupati Jepara, dan Ibunya, Ngasirah adalah anak mandor pabrik tebu. Jadi bisa dipastikan bahwa ibunya adalah seorang selir. Berbeda dari wanita sejamannya, Kartini dan saudara perempuannya disekolahkan pada sekolah rakyat bikinan Belanda. Disanalah ia belajar Bahasa Belanda yang akhirnya digunakan untuk berkorespondensi dengan temannya di Belanda. Menginjak dewasa, ia semakin tersayat melihat ketimpangan yang terjadi pada masyarakatnya.

“Orang Jawa dianiaya. Aku akan menyetopnya. Dan : Tugas manusia adalah menjadi manusia

Itulah penggalan surat Kartini kepada sahabatnya Estelle Zeehandelaar. Kalimat yang tercetak miring adalah penggalan yang disadurnya dari buku Max Havelaar karya Multatuli. Jadi saat itu Kartini telah sadar akan ketimpangan yang diakibatkan kolonialisme Belanda.  

Salah satu usaha Kartini untuk menghentikan ketipangan itu adalah dengan menaikkan derajat kesenian rakyat. Bahkan pada pameran kesenian kesenian yang dihadiri ibu suri Kerajaan Belanda. Ia menulis tentang batik. Ternyata ibu suri terkesan akan tulisannya itu sehingga mengirimkan utusan untuk membantu mengembangkan kerajinan batik Jepara. Usaha Kartini saat itu berhasil mengangkat kerajinan rakyat Jepara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup pengrajin tersebut. Kedekatan Kartini pada rayatnya dapat terungkap melalui surat-suratnya yang menyatakan bahwa ia adalah anak rakyat.

”Panggil aku Kartini saja. Itulah namaku.”

Waw… Kartini lahir pada golongan ningrat. Pada saat itu banyak ningrat yang merupakan kepanjangan tangan Belanda itu gila hormat. Jadi gelar sangatlah penting bagi mereka. Sedangkan Kartini malah berusaha menghilangkan gelar yang ia miliki karena kelahirannya. Disini Kartini sangat jelas menyatakan pertentangannya pada feodalisme. Pertentangannya ini mungkin sangat berat baginya karena harus berseberangan dengan bapaknya sendiri yang masih feodal.

 Memang ada yang menyangsikan perjuangan Kartini ini karena kedekatannya pada pihak Belanda. Selain itu surat-suratnya bisa terungkap karena usaha dari Tuan Abendanon, salah satu petinggi Belanda pada tahun 1911.

Pada saat itu sedang berkembang politik etis. Inggris saat itu memiliki Pandita Ramabai yang dikenal sebagai pejuang wanita dari India. Sangat lumrah jika Belanda juga tidak mau kalah sehingga bernafsu untuk mengorbitkan Kartini. Kumpulan surat-surat itu terangkum dalam buku Door Duisternis tot Licht yang mengambil cuplikan kata-kata Kartini ”Habis gelap terbitlah terang”. Amat disayangkan bahwa pada buku ini, surat-surat Kartini mengalami banyak sensor. Kalimat-kalimat yang berisi penentangan terhadap kolonialisme dan feodalisme sengaja dihapuskan. Lebih menyedihkannya lagi, buku habis gelap terbitlah terang karya Armijn Pane yang berbahasa Melayu adalah terjemahan langsung dari Door Duisternis tot Licht. Inipun cuman menyadur 40% dari keseluruhan buku Door Duisternis tot Licht.

Disinilah yang saya anggap terjadinya pengkerdilan tokoh Kartini. Lebih menyedihkannya lagi, bahwa Kartini telah dikerdilkan oleh kita sendiri yang tanpa sengaja telah mengabaikan perjuangannya.

Kartini pada masanya tidak hanya memperjuangkan kaum wanita, tapi seluruh rakyat. Memang dia berusaha memberikan pelajaran Bahasa Belanda pada kaum wanita saat itu. Itu dikarenakan diskriminasi gender yang terjadi pada masa itu. Apa masa sekarang masih layak untuk dibedakan?? Jadi disini juga terjadi pengkerdilan yang digunakan untuk membenarkan perbedaan gender. Sangat naif sekali jika kita yang selama ini sudah muak dengan sekat-sekat SARA harus diberikan sekat baru yang bernama gender.

Memang Kartini adalah manusia biasa. Pada akhirnya ia harus menyerah pada feodalisme dan terpaksa menerima suaminya yang poligami.

Sebelum meninggal Kartini menulis suratnya yang terakhir pada kalimat terakhir, enam hari sebelum melahirkan:

”Selamat malam, bunda tersayang, sekali lagi terimalah terimakasih kami berdua yang ikhlas. Salam kepada Tuan dari kami berdua, dan terimaah cium mesra dari putrimu sendiri: Kartini.”

 

Reff:

1.      Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja. Lentera Dipantara. 2007

2.      Kompas edisi 21 dan 22 April 2008

3.      www.detik.com