Bandung dari atas Jembatan Surapati

Jembatan Surapati dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas yang baru keluar dari tol, sehingga diharapkan dapat mengurangi kepadatan Bandung Utara saat akhir pekan. Ternyata keberadaan jembatan ini telah menjadi landmark Kota Bandung. Selain itu jembatan ini sering digunakan untuk tempat pacaran. Terutama pada akhir pekan pasti ramai sekali. Untuk itu saya tertarik untuk mengabadikan apa yang mereka lihat di jembatan ini.

Baca lebih lanjut

Bandungku (semakin) Terancam!!

“We not inherit this land from ours fathers, but we borrow it from our Children.”

Pada awal Bandung berdiri, kota ini hanya dihuni oleh 11 ribu jiwa. Pada zaman kekuasaan Belanda, Bandung sangat potensial dibidang pertanian. Saat ini Bandung dihuni oleh sekitar 3 juta orang. Bisa dibayangkan kepadatan yang akan terjadi.

Semakin padatnya wilayah Bandung menyebabkan peralihan lahan untuk perumahan menjadi tidak terkendali. Termasuk yang terjadi di daerah Dago Pakar, Bandung bagian Utara. Dalam waktu relatif singkat tanah-tanah pertanian disulap menjadi perumahan mewah. Padahal daerah ini adalah daerah resapan air bagi kota Bandung.

Baca lebih lanjut

Bandung Tempo Doeloe di Museum Sri Baduga

Wilayah Bandung merupakan Danau Purba. Hal ini bisa terlihat dari pegunungan yang mengelilingi kota Bandung. Sayang danau ini bocor pada daerah kapur yang berada di sekitar Padalarang. Danau purba yang kering tersebut menarik perhatian Belanda untuk mendirikan kota. Diletakkanlah sebuah patok yang nantinya membelah bandung menjadi dua (Utara dan Selatan). Patok tersebut saat ini menjadi Alun-alun Bandung.

Nah itulah sekelumit sejarah berdirinya Kota Bandung. Untuk lebih jelasnya, kalian dapat mengunjungi Museum Sri Baduga. Di dalam museum terdapat pemaparan mengenai Bandung (baca Jawa Barat) dari jaman purba, jaman kerajaan Hindu, Budha, Islam, penjajahan Belanda dan sejarah Budaya yang berkembang di sana. Museum ini terletak di jalan BKR (jalan tentara pejuang), tepat di depan Taman Tegallega. Jadi jika ingin tahu bandung secara menyeluruh, musti berkunjung nih ke sini.

Berikut laporan aku yang sempat menengok museum ini:

Baca lebih lanjut

Istana Negara vs Monas

Teman pernah bertanya: “Tau gak kenapa setiap pemimpin negara kita selalu jauh dengan rakyatnya? Kalau dulu karena dipimpin penjajah sih lumrah, tapi sekarang dipimpin oleh orang kita sendiri prilakunya tetep saja sama.”

Karena dilihat saya telah pasrah diapun nyeroscos, “karena pemimpin sekarang tetep tinggal di Istana yang dibikin oleh penjajah untuk mengawasi daerah jajahannya. Jadi saat berkuasa perilaku mereka hampir sama dengan penjajah.”

Jawaban yang sedikit ngaco, tapi setelah direnungkan ada benarnya juga. Istana negara yang terletak di Jalan Merdeka Utara dibangun pada tahun 1796 dan pembangunannya selasai tahun 1804. Sejak tahun 1821 oleh pemerintah kolonial, bangunan tersebut digunakan sebagai pusat pemerintahan. Begitu juga saat Jepang berkuasa di Indonesia. Selama penjajahan Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan, istana ini telah digunakan oleh lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara.

Baca lebih lanjut

Kutukan Teluk Andaman

Pada Tahun 2004, lebih dari 200 ribu jiwa melayang akibat bencana tsunami. Korban berasal dari Indonesia (Aceh dan Sumut), Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Srilanka, Maladewa dan beberapa dari negara Afrika sebelah Timur. Negara tersebut sebagian besar terletak disekitar teluk Andaman.

Pada tahun ini dua bencana dahsyat melanda Myanmar dan China. Topan Nargis menelan korban lebih dari 134 ribu jiwa di Myanmar. Gempa di Shincuan, Cina mengambil lebih dari 34 ribu nyawa. Baca lebih lanjut

BBM Naik, Minyak Tanah Langka dan Gas Menghilang

Lebih dari seminggu Bandung kehilangan pasokan gas. Depot-depot gas ramai oleh antrean. Pengecer sibuk mengambil untung dengan membandrol harga 65 ribu, 14 ribu lebih mahal dari harga depot. Itupun harus pesan dua hari sebelumnya dengan membayar lunas di depan. Jadilah kompor gasku menganggur selama dua hari ini. Piuhhh…. Jadi heran, apa sih maunya pemerintah??….

Beberapa minggu sebelumnya, pasokan minyak tanah dikurangi. Pangkalan minyak tanah juga ramai oleh antrian. Para pengguna minyak tanah dihimbau beralih ke gas, karena dapat menghemat biaya subsidi pemerintah. Seperti diketahui, Indonesia adalah penghasil gas yang cukup besar di dunia. Akan tetapi semua gas kita malah diekspor ke Jepang, Cina dan Korea. Untuk kebutuhan dalam negeri malah impor. Kebijakan yang aneh. Makanya jangan heran kalau pabrik pupuk dan keramik sampai kesulitan mendapatkan pasokan gas. Baca lebih lanjut

BBM Seharusnya Gratis

Ini mungkin dikira provokatif. Tapi sebagai warga negara kita berhak melakukan monitor terhadap kebijakan pemerintah. Selain itu sudah saatnya pemerintah melakukan transparansi mengenai minyak yang saat ini seakan-akan ditutup-tutupi. Penentuan harga seolah-olah berasal dari langit. Setiap harga minyak dunia, kita seakan menderita. Untuk mengimbangi kalkulasi pemerintah, saya melakukan perhitungan sendiri seuai dengan informasi yang saya ketahui tentang seluk-beluk minyak Indonesia.

Saat ini kebutuhan minyak Indonesia adalah 1.3 juta barel/hari sedangkan produksi dalam negeri adalah 900 ribu barel/hari. Jadi terdapat selisih 400 ribu barel yang harus di Impor. Baca lebih lanjut